|
A.
Latar
Belakang
Menurut The American
Thoraric Society, (1962) Asma adalah
suatu penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakhea dan bronkhus terhadap
berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas
dan derajatnya dapat berubah-ubah secara spontan maupun sebagai hasil
pengobatan (Muttaqin, 2008). Jalan napas memiliki otot polos hipertrofi yang
berkontraksi selama serangan, menyebabkan bronkokonsrtiksi. Di samping itu,
terdapat hipertrofi kelenjar mukosa, edema dinding bronkial, dan infiltrasi
ekstensif oleh eosinofil dan limfosit. Mukus bertambah jumlahnya dan abnormal
menjadi kental, kenyal, dan bergerak lambat. Pada kasus yang berat, banyak
jalan napas yang tersumbat oleh sumbatan mukus, mungkin sebagian dibatukan
dalam sputum. Sputum tersebut khasnya sedikit dan putih (West, 2010). Berdasarkan
wawancara kepada perawat Ruang Puspa Indah RSUD Nganjuk pada tanggal 15 Juli 2013 pukul 12.55 WIB, perawat tersebut
mengatakan bahwa sebagian besar pasien asma mengalami masalah keperawatan
bersihan jalan napas.
|
Antibodi yang dihasilkan (IgE)
menyerang sel-sel mast dalam paru. Pemajanan ulang terhadap antigen mengakibatkan ikatan antigen
dengan antibodi, menyebabkan pelepasan produk sel-sel mast (disebut mediator)
seperti histamin, bradikinin, dan prostatglandin serta anafilaksis dari
substansi yang bereaksi lambat. Pelepasan mediator ini dalam jaringan paru
mempengaruhi otot polos dan kelenjar jalan napas, menyebabkan bronkospasme,
pembengkakan membran mukosa, dan pembentukan mukus yang sangat banyak (Smeltzer dan Bare, 2002). Mukosa dan dinding bronkhus pada klien
dengan asma akan terjadi edema. Terjadinya infiltrasi pada sel radang terutama
eosinofil dan terlepasnya sel silia menyebabkan adanya getaran silia dan mukus
di atasnya. Hal ini membuat salah satu daya pertahanan saluran pernapasan
menjadi tidak berfungsi lagi. Pada klien dengan asma bronkhial juga ditemukan
adanya penyumbatan saluran pernapasan oleh mukus terutama pada cabang-cabang
bronkhus (Muttaqin, 2008) Masalah
Keperawatan yang muncul pada kasus Asma bronkhial antara lain bersihan
jalan napas tidak efektif, kerusakan pertukaran gas, ketidakseimbangan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh (Somantri, 2012). Merujuk dari sumber di atas maka
pada asma bronkhial dapat diangkat
diagnosa keperawatan salah satunya adalah bersihan jalan napas tidak efektif /
obstruksi jalan napas, Menurut Hidayat (2006), obstruksi jalan napas(bersihan
jalan napas) merupakan kondisi pernapasan yang tidak normal akibat
ketidakmampuan batuk secara efektif, dapat disebabkan oleh sekresi yang kental
atau berlebihan akibat penyakit infeksi, imobilisasi, statis sekresi, dan batuk
tidak efektif karena penyakit persarafan seperti cerebro vascular accident(CVA), efek pengobatan sedatif, dll.
Penatalaksanaan pada asma bronkhial terbagi 2, yaitu
pengobatan non-farmakologi(keperawatan) dan farmakologi(medis). Secara
non-farmakologi antara lain : penyuluhan, menghindari faktor pencetus, fibrasi
dada. Sedangkan secara farmakologi antara lain memberikan therapy agonis beta ,
metilxantin, kortikosteroid, kromolin dan iprutropioum bromide (atroven). (Muttaqin,
2008)
B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan
Umum
Mampu
memberikan Asuhan Keperawatan pada Ny. C (usia 29 tahun) dengan bersihan
jalan napas tidak efektif pada asma bronkhial di ruang Puspa Indah RSUD Nganjuk secara komperhensif
dengan proses keperawatan.
2. Tujuan
Khusus
a. Mampu melakukan pengkajian pada Ny. C (usia 29 tahun)
dengan asma bronkhial di
ruang Puspa Indah RSUD Nganjuk.
b. Mampu merumuskan diagnosa keperawatan pada Ny. C (usia 29
tahun) dengan asma bronkhial di ruang Puspa Indah RSUD Nganjuk.
c. Mampu menyusun rencana keperawatan pada Ny. C (usia 29
tahun) dengan asma bronkhial di ruang Puspa Indah RSUD Nganjuk.
d. Mampu
melakukan tindakan keperawatan
pada Ny. C (usia 29 tahun) dengan asma
bronkhial di ruang Puspa Indah RSUD
Nganjuk.
e. Mampu
melaksanakan evaluasi tindakan keperawatan
pada Ny. C (usia 29 tahun) dengan asma bronkhial di ruang Puspa
Indah RSUD Nganjuk.
C. Pengumpulan
Data
Dalam
penyusunan karya tulis ilmiah ini penulis menggunakan metode deskriptif yang
berbentuk studi kasus dengan teknik pengumpulan data:
1. Wawancara
(Anamnesa)
Wawancara adalah
menanyakan atau tanya jawab yang berhubungan dengan masalah yang
dihadapi klien dan merupakan suatu komunikasi yang direncanakan. Dalam
wawancara, perawat mengajak klien dan keluarga untuk bertukar pikiran dan
perasaanya, yang diistilahkan teknik komunikasi terapeutik (Setiadi, 2012).
2. Observasi
Observasi adalah
mengamati perilaku dan keadaan klien untuk memperoleh data tentang masalah
kesehatan dan keperawatan klien (Setiadi, 2012).
3. Pemeriksaan
fisik
Pemeriksaan fisik (physical examination) dalam pengkajian
keperawatan dipergunakan untuk memperoleh data objektif dari klien. Tujuan dari
pemeriksaan fisik ini adalah untuk menentukan status kesehatan klien,
mengidentifikasi masalah kesehatan, dan memperoleh data dasar guna menyusun
rencana asuhan keperawatan (Nursalam, 2011)
4.
Pemeriksaan Diagnostik
dan Laboratorium
Pentingnya arti bagi
perawat untuk menelaah hasil pemeriksaan ini untuk memastikan perubahan yang
teridentifikasi dalam riwayat kesehatan keperawatan dan pemeriksaan fisik,
hasil ini mencangkup informasi nilai dasar tentang respon terhadap penyakit dan
informasi tentang efek tindakan pengobatan nantinya. Data laboratorium dapat
membantu untuk mengidentifikasi masalah keperawatan kesehatan aktual atau
potensial yang sebelumnya tidak diketahui oleh klien atau pemeriksa (Potter
& Peery, 2005).
5. Studi
kepustakaan
Untuk memperoleh data
dasar klien yang komprehensif, perawat dapat membaca literatur yang berhubungan
dengan masalah klien. Membaca literatur sangat membantu perawat dalam
memberikan asuhan keperawatan yang benar dan tepat (Nursalam, 2011).
6. Studi
dokumentasi
Cara lain untuk
memperoleh data dan responden adalah menggunakan teknik dokumentasi. Pada
teknik ini, peneliti memperoleh informasi (data) dari berbagai sumber tertulis
atau dokumen yang ada pada responden atau tempat di mana responden bertempat
tinggal atau melakukan kegiatan sehari - harinya (Arifin, 2009).
D. Sistematika
Penulisan Studi Kasus
1.
Bab
I : Pendahuluan
Pendahuluan adalah bab pertama dari studi
kasus yang berisi tentang masalah, skala, kronologis, dan solusi penyakit Asma bronkhial. Dalam studi kasus
ini pendahuluan terdiri dari :
a. Latar
belakang
Kesenjangan
antara harapan dan kenyataan (Bahdin, 2010).
b. Rumusan
masalah merupakan upaya tersurat yang hendak dicarikan jawabannya (Bahdin,
2010).
c. Tujuan
Penulisan
Sasaran yang
ingin dicapai dalam penelitian (Bahdin, 2010).
d. Pengumpulan
data
Pengumpulan data
adalah langkah - langkah yang ditempuh dan teknik yang digunakan untuk
mengumpulkan data (Bahdin, 2010).
e. Sistematika penulisan
Berisi tata cara
atau aturan yang harus diikuti dalam penulisan karya tulis ilmiah (Bahdin,
2010).
2.
Bab
II : Konsep Dasar
a. Konsep
dasar asma bronkhial berisi (Pengertian, etiologi, patofisiologi,
gambaran klinis, pelaksanaan, pathway/WOC),
b. Konsep
dasar manajemen asuhan keperawatan berisi:
1) Konsep dasar
oksigenasi berisi pengertian oksigenasi, patofisiologi oksigenasi, dan
pathway/WOC oksigenasi.
2) Konsep
dasar asuhan keperawatan berisi pengkajian data dasar, diagnosa keperawatan,
perencanaan keperawatan pelaksanaan keperawatan, dan evaluasi keperawatan.
3.
Bab
III : Tinjauan Kasus
Data yang
terkumpul pada bab ini antara lain:
Pengkajian
meliputi (identitas klien, riwayat kesehatan klien, pemeriksaan fisik, pola
fungsional, data fokus, data penunjang, analisa data), diagnosa keperawatan,
perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi.
4.
Bab
IV : Pembahasan
Adalah
kemampuan penulis di dalam mengupas, mengamati dan memberikan solusi dengan
alasan-alasan ilmiah yang dapat dipertanggung jawabkan. Pada bab ini penulis
berorientasi pada problem solving
dengan argumentasi ilmiah.
5.
Bab
V: Penutup
Penulisan pada bab ini berisi kesimpulan dan rekomendasi, sedangkan
rekomendasi lebih menekankan pada usulan yang sifatnya operasional atau
aplikatif. Dimana Bab ini terdiri dari : kesimpulan dan saran.
BAB II
KONSEP DASAR
A.
Konsep
Dasar Asma Bronkhial
1.
Pengertian
Menurut The American Thoraric
Society, 1962 Asma adalah suatu
penyakit dengan ciri meningkatnya respon trakhea dan bronkhus terhadap berbagai
rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan napas yang luas dan
derajatnya dapat berubah-ubah secara spontan maupun sebagai hasil pengobatan
(Muttaqin, 2008). Asma merupakan suatu penyakit gangguan
jalan nafas obstruksi intermitten yang bersifat reversibel, ditandai dengan
adanya periode bronkospasme,
peningkatan respon trakhea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan yang
menyebabkan penyempitan jalan nafas (Prasetyo, 2010). Adapun
pernyataan lain menjelaskan bahwa Asma bronkhial adalah penyakit jalan nafas obstruktif intermitten, reversibel dimana
trakeobronkial berespon secara hiperaktif terhadap stimuli tertentu (Smeltzer & Bare, 2002)
a.
Klasifikasi Asma bronkhial
|
1)
Ekstrinsik (Alergik)
|
dihubungkan dengan adanya suatu predisposisi genetik
terhadap alergi. Oleh karena itu jika
ada faktor-faktor pencetus spesifik seperti yang disebutkan di atas, maka akan
terjadi serangan asma ekstrinsik.
2) Intrinsik (non alergik)
Ditandai dengan adanya reaksi
non alergi yang bereaksi terhadap pencetus yang tidak spesifik atau tidak
diketahui, seperti udara dingin atau bisa juga disebabkan oleh adanya infeksi
saluran pernafasan dan emosi. Serangan asma ini menjadi lebih berat dan sering
sejalan dengan berlalunya waktu dan dapat berkembang menjadi bronkhitis kronik
dan emfisema. Beberapa pasien akan mengalami asma gabungan.
3) Asma gabungan
Bentuk asma yang paling umum. Asma ini mempunyai karakteristik dari bentuk
alergik dan non-alergik. (Tanjung, 2003)
2. Etiologi (Somantri, 2012)
Sampai
saat ini etiologi asma belum diketahui dengan pasti, suatu hal yang menonjol
pada semua penderita asma adalah fenomena hiperreaktivitas bronkus. Bronkus
penderita asma sangat peka terhadap rangsangan imunologi maupun non-imunologi.
Oleh karena sifat inilah, maka serangan asma mudah terjadi ketika rangsangan
baik fisik, metabolik, kimia, alergen, infeksi dan sebagainya. Penderita asma
perlu mengetahui dan sedapat mungkin menghindari rangsangan atau pencetus yang
dapat menimbulkan asma. Faktor-faktor tersebut adalah sebagai berikut :
a.
Alergen utama, seperti debu rumah spora jamur, dan tepung sari rerumputan.
b.
Iritan seperti asap, bau-bauan, dan polutan.
c.
Infeksi saluran napas terutama yang disebabkan oleh virus. Virus influenza
(Sundaru, 1991) Dikutip dari (Muttaqin, 2008).
d.
Lingkungan kerja. Lingkungan kerja diperkirakan merupakan faktor pencetus
yang menyumbang 2 - 15% klien dengan
asma bronkhial (Sundaru,1991) Dikutip dari (Muttaqin, 2008)
3. Patofisiologi (Somantri, 2012)
Asma
akibat alergi bergantung kepada respon IgE yang dikendalikan oleh limfosit T
dan B serta diaktifkan oleh interaksi antara antigen dengan molekul IgE yang
berikatan dengan sel mast. Sebagian besar alergen yang mencetuskan asma
bersifat airbone dan agar dapat
menginduksi keadaan sensitifitas, alergen tersubut harus tersedia dalam jumlah
banyak untuk periode waktu tertentu. Akan tetapi, sekali sensitifitasi telah
terjadi, klien akan memperlihatkan respon yang sangat baik, sehingga sejumlah
kecil alergen yang mengganggu sudah dapat menghasilkan eksaserbasi penyakit
yang jelas. Obat yang paling sering berhubungan dengan induksi episode akut
asma adalah aspirin, bahan pewarna seperti tartazin, antagonis beta-adrenergik,
dan bahan sulfat. Sindrom pernafasan sensitif-aspirin khususnya terjadi pada orang dewasa,
walaupun keadaan ini dapat dilihat pada masa kanak-kanak. Masalah ini biasanya
berawal dari rhinitis vasomotor perennial yang diikuti oleh rhinosinusitis
hiperplastik dengan polip nasal. Baru kemudian muncul asma progresif. Klien
yang sensitif terhadap aspirin dapat didesentisasi dengan pemberian obat setiap
hari. Setelah menjalani bentuk terapi ini, toleransi silang juga akan terbentuk
terhadap agen anti-inflamasi non-steroid lain.
Mekanisme
yang menyebabkan bronkospasme karena penggunaan aspirin dan obat lain tidak
diketahui, tetapi mungkin berkaitan dengan pembentukan leukotrien yang
diinduksi secara khusus oleh aspirin. Antagonis beta-adrenergik biasanya
menyebabkan obstruksi jalan napas pada klien asma, sama halnya dengan klien
lain, dapat menyebabkan peningkatan reaktivitas jalan napas dan hal tersebut
harus dihindarkan. Obat sulfat seperti kalium metabisulfit, kalium dan natrium
bisulfit, natrium sulfit dan sulfat klorida, yang secara luas digunakan dalam
industri makanan dan farmasi sebagai agen sanitasi serta pengawet dapat
menimbulkan obstrusi jalan napas akut pada klien yang sensitif. Pajanan
biasanya terjadi setelah menelan makanan atau cairan yang mengandung senyawa
ini, seperti salad, buah segar, kentang, kerang, dan anggur.
Pencetus-pencetus
serangan di atas ditambah pencetus lainnya dari internal klien akan
mengakibatkan timbulnya reaksi antigen dan antibodi. Reaksi antigen-antibodi
ini akan mengeluarkan substansi pereda alergi yang sebetulnya merupakan
mekanisme tubuh dalam menghadapi serangan. Zat yang dikeluarkan dapat berupa
histamin, bradikinin, dan anafilatosin. Hasil dari reaksi tersebut adalah
timbulnya tiga gejala, yaitu berkontraksinya otot polos, peningkatan
permeabilitas kapiler, dan peningkatan sekret mukus.
4.
Gambaran Klinis (Smetlzer & Bare, 2002)
a.
Tiga gejala umum asma adalah batuk, dispnea, dan mengi.
b.
Serangan asma seringkali terjadi pada malam hari.
c.
Serangan asma biasanya bermula mendadak dengan batuk dan rasa sesak dalam
dada, disertai dengan pernapasan lambat, mengi, laborus.
d.
Ekspirasi selalu lebih susah dan panjang dibanding inspirasi.
e.
Sputum yang terdiri atas sedikit mukus mengandung masa gelatinosa bulat,
kecil yang dibatukkan dengan susah payah
f.
Sianosis sekunder terhadap hipoksia
hebat dan gejala-gejala retensi karbon dioksida, termasuk berkeringat,
takikardia, dan pelebaran tekanan nadi
5. Penatalaksanaan (Muttaqin, 2008)
a.
Penatalaksanaan non-farmakologi
1)
Penyuluhan : Penyuluhan ini ditujukan untuk peningkatan pengetahuan klien
tentang penyakit asma sehingga klien secara sadar menghindari faktor-faktor
pencetus, menggunakan obat secara benar, dan berkonsultasi pada tim kesehatan.
2)
Menghindari faktor pencetus : Klien perlu dibantu mengidentifikasi pencetus
serangan asma yang ada pada lingkungannya, diajarkan cara menghindari dan
mengurangi faktor pencetus, termasuk intake cairan yang cukup bagi klien.
3)
Fisioterapi : Dapat digunakan untuk mempermudah pengeluaran mukus. Ini
dapat dilakukan dengan postural drainase, perkusi, dan fibrasi dada.
b.
Penatalaksanaan farmakologi
1)
Agonis beta : Metaproterenol (alupent , metrapel). Bentuknya aerosol,
bekerja sangat cepat, diberikan sebanyak 3 - 4 x semprot, dan jarak semprotan
pertama dan kedua adalah 10 menit.
2)
Metilxantin : Dosis dewasa diberikan 125 - 200 mg 4 x sehari. Golongan metilxantin
adalah aminofilin dan teofilin. Obat ini diberikan bila golongan beta agonis
tidak memberikan hasil yang memuaskan.
3)
Kortikosteroid : Jika agonis beta dan metilxantin tidak memberikan respon
yang baik, harus diberikan kortikosteroid. Steroid dalam bentuk aerosol dengan
dosis 4 x semprot tiap hari. Pemberian steroid jangka yang lama mempunyai efek
samping, maka klien yang mendapat steroid dalam jangka yang lama harus diawasi
dengan ketat.
4)
Kromolin dan iprutropioum bromide (atroven) : Kromolin merupakan obat
pencegah asma khususnya untuk anak-anak. Dosis iprutropioum bromide diberikan
1- 2 kapsul 4 x sehari (Kee dan Hayes,1994) Dikutip dari (Muttaqin, 2008)
B. Manajemen Asuhan Keperawatan
1. Konsep Dasar Oksigenasi (Hidayat,AAA & Uliyah,M, 2012)
Kebutuhan
oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang digunakan untuk kelangsungan
metabolisme sel tubuh, untuk mempertahankan hidupnya dan untuk aktifitas
berbagai organ atau sel. Dalam proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi tersebut
diatur oleh sistem atau organ tubuh, diantaranya saluran pernapasan bagian
atas, bawah dan paru.
Saluran
pernapasan bagian atas terdiri dari hidung, faring, laring, dan epiglotis, yang
berfungsi menyaring, menghangatkan, dan melembabkan udara yang dihirup.
Saluran
pernapasan bagian bawah berfungsi mengalirkan udara dan memproduksi surfaktan.
Saluran ini terdiri atas trakea, bronkus, dan bronkiolus.
Paru
sebagai alat pernapasan utama terdiri dari dua bagian (paru kanan dan kiri) dan
bagian tengah dari organ tersebut terdapat organ jantung beserta pembuluh darah
yang berbentuk kerucut dan bagian puncak disebut apex. Paru memiliki jaringan
yang bersifat elastik, berpori, dan memiliki fungsi sebagai pertukaran gas
oksigen dan karbon dioksida.
a.
Proses Oksigenasi
Dalam
proses pemenuhan kebutuhan oksigenasi di dalam tubuh terdapat tiga tahapan
yakni ventilasi, difusi, dan transportasi.
1)
Ventilasi
Ventilasi
merupakan proses keluar dan masuknya oksigen dari atmosfer ke dalam aveoli atau
dari alveoli ke atmosfer. Dalam proses ventilasi ini terdapat beberapa hal yang
mempengaruhinya diantaranya perbedaan tekanan atmosfer dengan paru, kemampuan
thorak dan paru, jalan napas, reflek batuk dan muntah, peran mukus ciliaris.
Pengaruh
proses ventilasi selanjutnya adalah complience
dan recoil. Complience yaitu kemampuan paru untuk berkembang yang dapat
dipengaruhi oleh faktor diantaranya adanya surfaktan yang terdapat pada lapisan
alveoli yang berfungsi untuk menurunkan tegangan permukaan, adanya sisa udara
yang menyebabkan tidak terjadinya kolaps dan gangguan thorak. Surfaktan
diproduksi saat terjadi peregangan sel alveoli, dan disekresi saat pasien
menarik napas, sedangkan recoil
adalah kemampuan untuk mengeluarkan CO2 atau kontraksi menyempitnya
paru. Apabila complience baik akan tetapi
recoil terganggu maka CO2
tidak dapat keluar secara maksimal.
Kemudian
pada pusat pernapasan yaitu medulla oblongata dan pons juga dapat mempengaruhi
proses ventilasi, karena CO2 memiliki kemampuan merangsang pusat
pernapasan, peningkatan CO2 dalam batas 60 mmhg dapat dengan baik
merangsang pusat pernapasan dan bila PCO2 kurang dari sama dengan 80
mmhg maka dapat menyebabkan depresi pusat pernapasan.
2)
Difusi gas
Merupakan
pertukaran antara oksigen alveoli dengan kapiler paru dan CO2
kapiler dengan alveoli. Dalam proses pertukaran ini terdapat beberapa faktor
yang dapat mempengaruhinya diantaranya, pertama
luasnya permukaan, kedua, tebal
membran respirasi / permeabilitas yang terdiri dari epitel alveoli dan
interstitial keduanya ini dapat mempengaruhi proses difusi apabila terjadi
proses penebalan, ketiga perbedaan
tekanan dan konsentrasi O2, hal ini dapat terjadi seperti O2
dari alveoli masuk ke dalam darah oleh karena tekanan O2 dalam
rongga alveoli lebih tinggi dari tekanan O2 dalam darah vena
pulmonalis (masuk dalam darah secara berdifusi) dalam PCO2 dalam
arteri pulmonalis juga akan berdifusi ke dalam alveoli, keempat afinitas gas yaitu kemampuan untuk menembus dan saling mengikat
Hb.
3)
Transportasi gas
Merupakan
transportasi antara O2 kapiler ke jaringan tubuh dan CO2
jaringan tubuh ke kapiler. Pada proses transportasi O2 akan
berikatan dengan Hb membentuk Oxyhemoglobin
(97%) dan larut dalam plasma (3%). Kemudian pada transportasi CO2
akan berukatan dengan Hb membentuk carbominohemoglobine
(30%), dan larut dengan plasma (5%),
kemudian sebagian besar HCO3 berada pada darah (65%).
Transportasi
gas dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor diantaranya pertama cardiac output yang dapat dinilai
melalui isi sekuncup dan frekuensi denyut jantung. Pada isi sekuncup ditentukan
oleh kemampuan otot jantung untuk berkontraksi dan volume cairan, dan frekuensi
denyut jantung dapat ditentukan oleh keadaan seperti over load atau beban yang dimiliki pada akhir diastol, pre load atau jumlah cairan pada akhir
diastol natrium berperan dalam menentukan besarnya potensial aksi, calsium berperan dalam kekuatan kontraksi
dan relaksasi kemudian faktor lain dalam menentukan proses transportasi adalah
kondisi pembuluh darah, exercise, hematocryt (perbandingan antara sel
darah dengan darah secara keseluruhan atau HCT/PVC) dan Crytrocit dan Hb.
b.
Faktor
Yang Mempengaruhi
Kebutuhan Oksigenasi
Dalam pemenuhan
kebutuhan oksigenasi terdapat beberapa faktor yang mempengaruhinya, diantaranya
saraf otonomik, hormonal dan obat-obatan, alergi saluran napas, perkembangan,
lingkungan dan perilaku.
Pada saraf
otonomik, rangsangan simpatis dan parasimpatis dapat mempengaruhi kemampuan
untuk dilatasi dan konstriksi, hal ini dapat terlihat baik simpatis maupun
parasimpatis ketika terjadi rangsangan ujung saraf dapat mengeluarkan
neuotransmiter (untuk simpatis dapat mengeluarkan noradrenalin yang berpengaruh
pada brochodilatasi dan untuk parasimpatis mengeluarkan acetylcolin yang berpengaruh pada bronchokonstriksi) karena pada saluran pernapasan terdapat adrenergic reseptor dan cholinergic reseptor.
Obat-obatan
dapat mempengaruhi kebutuhan oksigenasi seperti obat golongan parasympathic dapat melebarkan tractus respiratorius, diantaranya sulfas
atropin, extr. belladona dan obat-obatan yang menghambat adrenergic tipe beta (khususnya beta – 2) dapat mempersempit
tractus respiratorius. (broncho constriksi), seperti obat-obatan yang tergolong
beta blocker non selektif.
Kondisi lingkungan dapat mempengaruhi
kebutuhan oksigenasi, seperti faktor alergi, ketinggian maupun suhu. Kondisi
tersebut mempengaruhi kemampuan adaptasi.
Perilaku yang
dimaksud disini adalah perilaku mengkonsumsi makanan, seperti orang obesitas
dapat mempengaruhi pengembangan paru, selain itu oerilaku merokok juga dapat
menyebabkan proses penyempitan pada pembuluh
darah dan lain-lain.
c.
Jenis
Pernapasan
Dalam proses
pernapasan kita dapat mengenal dua jenis, yaitu pernapasan eksternal dan
internal. Pernapasan eksternal (external
respiration) merupakan proses terjadinya masuknya O2 dalam
pengeluaran CO2 dari tubuh yang sering disebut sebagai pernapasan
biasa. Proses pernapasan ini dimulai dengan masuknya oksigen melalui hidung dan
mulut pada waktu bernapas, oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronchial ke
alveoli dan kemudian oksigen akan menembus membran kemudian diikat oleh
haemoglobin sel darah merah dan dibawa ke jantung. Setelah itu dipompa oleh
arteri ke seluruh tubuh, dan darah meninggalkan paru dengan tekanan oksigen 100
mmhg. Karbondioksida sebagai hasil buangan metabolisme menembus membran
alveolar kapiler yakni dari kapiler darah ke alveoli dan melalui pipa
bronchial, trakhea dikeluarkan melalui hidung atau mulut.
Pernapasan
internal (internal respiration)
merupakan proses terjadinya pertukaran gas antar sel jaringan dengan cairan
sekitarnya yang sering melibatkan proses metabolisme tubuh, atau juga dapat
dikatakan bahwa proses pernapasan ini diawali dengan darah yang telah
menjenuhkan hemoglobinnya kemudian mengitari seluruh tubuh dan akhirnya
mencapai kapiler dan bergerak sangat lambat.
Sel jaringan mengambil oksigen dari hemoglobin dan darah menerima
sebagai gantinya, sisa buangannya adalah karbondioksida.
d.
Pengukuran
Fungsi Paru
Untuk menilai
kemampuan faal paru dapat dinilai dari volum dan kapasitas paru. Volum paru
merupakan volum udara yang mengisi ruangan udara dalam paru yang terdiri dari tidal volume (TV), inspiratory reserve volume (IRV), expiratory reserve volume (ERV), residual volume (RV), sedangkan kapasitas paru merupakan suatu
jumlah dua atau lebih dari volum paru yang terdiri dari inspiratory capacity (IC), fungtional
reserve capacity (FRC), kapasitas
vital (KV), dan total lung capacity (TLC),
tidal volume atau volum pasang surut
merupakan jumlah udara keluar masuk paru pada saat bernapas biasa. Pada orang
sehat besarnya tidal volum ini adalah rata-rata 500cc. Inspiratory reserve volume atau volum cadangan hisap merupakan
jumlah udara yang masih bisa kita hisap secara maksimal setelah kita menghisap
udara pada pernapasan biasa. Pada orang dewasa volume cadangan hembus merupakan
jumlah udara yang masih bisa kita keluarkan secara maksimal setelah kita
menghembuskan udara pada pernapasan biasa. Pada orang dewasa dapat mencapai
1100 cc. Residual volume atau volume
sisa merupakan jumlah udara yang masih tertinggal di dalam paru meskipun kita
telah menghembuskan nafas secara maksimal. Pada orang dewasa besarnya adalah
rata-rata 1200 cc.
Inspiratory
capacity atau kapasitas
hisapmerupakan jumlah dari tidal volume dan inspiratory
reserve volume. Fungsional reserve
capacity merupakan jumlah dari expiratory
reserve volume, tidal volume dan inspiratory
reserve volume. Total lung capacity
merupakan jumlah keseluruhan volume udara yang ada di dalam paru, meliputi tidal volume, inspiratory reserve volume,
expiratory reserve volume dan
residual volume.
e.
Gangguan / Masalah
Kebutuhan Oksigenasi
Dalam pemenuhan
kebutuhan oksigenasi terdapat beberapa masalah yang sering ditemukan
diantaranya hipoksia, perubahan pola pernapasan, bersihan jalan napas
(obstruksi jalan napas) dan gangguan
pertukaran gas.
1)
Hipoksia
merupakan kondisi kurangnya kebutuhan oksigen dalam tubuh atau tidak tercukupinya
pemenuhan kebutuhan oksigen dalam tubuh akibat defisiensi oksigen atau
peningkatan penggunaan oksigen dalam tingkat sel, seperti terjadi kebiruan
(sianosis).
2)
Perubahan
pola pernapasan yang meliputi tachypnea, hiperventilasi, hipoventilasi, kumaul,
dyspnea, orthopnea, cheyne stokes, paradoksial, biot, stridor.
3)
Tachypnea
merupakan pernapasan yang memiliki frekuensi melebihi 24 jam kali per menit.
4)
Bradypnea
merupakan pola pernapasan dengan ditandai pola lambat dan kurang lebih 10 kali
permenit.
5)
Hiperventilasi
merupakan cara tubuhdalam mengkompensasi peningkatan jumlah oksigen dalam paru
agar pernapsan lebih cepat dan dalam. Proses ini ditandai adanya peningkatan
denut nadi, nafas pendek, adanya nyeri dada, menurunnya konsentrasi dan
lain-lain.
6)
Hipokapnea
yaitu berkurangnya CO2 tubuh dibawah batas normal, sehingga
rangsangan terhadap pusat pernapasan menurun akibat hiperventilasi.
7)
Kusmaul
merupakan pola pernapasan cepat dan dangkal yang dapat ditemukan pada orang
keadaan asidosis metabolik.
8)
Hipoventilasi
merupakan upaya tubuh untuk mengeluarkan karbondioksida dengan cukup yang
dilakukan pada saat ventilasi alveolar, serta tidak cukupnya dalam penggunaan
oksigen dengan ditandai adanya nyeri kepala, penurunan kesadaran, disorientasi
atau ketidakseimbangan elektrolit yang dapat terjadi akibat atelektasis,
otot-otot pernapasan lumpuh, depresi pusat pernapasan, tahanan jalan udara
pernapasan meningkat, tahanan jaringan paru dan thorax menurun, compliance paru
dan thorax menurun.
9)
Hiperkapnea
yaitu retensi CO2 dalam tubuh sehingga PCO2 meningkat
(akibat hipoventilasi) akhirya menyebabkan deperesi sususnan saraf pusat.
10) Dyspnea merupakan perasaan sesak dan
berat saat pernapasan. Hal ini dapat disebabkan oleh perubahan kadar gas dalam
darah/jaringan, kerja berat /berlebihan dan pengaruh psikis.
11) Orthopnea merupakan kesulitan bernapas
kecuali dalm posisi duduk atau berdiri dan pola ini sering ditemukan pada
seseorang yang mengalami kongestif paru.
12) Cheyne stokes merupakan siklus
pernapasan yang amplitudonya mula-mula naik kemudian menurun dan berrhenti dan
mulai dari siklus baru.
13) Pernapasan paradoksial merupakan
pernapasan dengan ditandai adanya dinding paru bergerak berlawanan arah dari
keadaan noramal, yang sering ditemukan pada keadaan atelektasis.
14) Biot merupakan pernapasan dengan irama
yang mirip dengan cheyne stokes akan tetapi amplitudonya tidak teratur.
15) Stridor merupakan pernapasan bising yang
terjadi karena penyempitan pada saluaran pernapasan.
16) Obstruksi jalan napas (bersihan jalan
napas) merupakan suatu kondisi individu mengalami ancaman pada kondisi
pernapasannya yang berkenaan dengan ketidakmampuan batuk secara efektif, yang
dapat disebabkan oleh sekresi yang kental atau berlebihan akibat penyakit
infeksi, imobilisasi, stasis sekresi dan batuk tidak efektif karena penyakit
persarafan seperti CVA, akibat efek pengobatan sedatif, dan lain-lain. Bersihan
jalan napas ditandai dengan batik tidak efektif atau tidak ada, tidak mampu
mengeluarkan sekresi di jalan napas, suara napas menunjukkan adanya sumbatan,
dan jumlah, irama, kedalaman pernapasan tidak normal.
17) Pertukaran gas merupakan suatu kondisi
individu mengalami penurunan gas baik oksigen maupun karbondioksida antara
alveoli paru dan sistem vaskuler, yang dapat disebabkan sekresi yang kental
atau imobilasasi akibat penyakit saraf, depresi susunan saraf pusat, atau
penyakit peradangan pada paru. Ganggan pertukaran gas ditandai dengan dyspnea
pada usaha napas, napas dengan bibir pada fase ekspirasi yang panjang, agitasi,
lelah, letargi, meningkatnya tekanan tahanan paru, menurunnya saturasi,
meningkatnya PCO2 dan sianosis.
2. Konsep Dasar Asuhan Keperawatan
a. Pengkajian
1)
Fokus Identitas
Asma terjadi pada semua
golongan usia, sekitar setengah dari kasus terjadi pada anak-anak dan sepertiga
lainnya terjadi sebelum usia 40 tahun (Smeltzer &
Bare, 2002).
2)
Keluhan Utama
Keluhan utama meliputi sesak napas,
bernapas terasa berat pada dada, dan adanya keluhan sulit untuk bernapas. (Muttaqin, 2008)
3)
Riwayat Penyakit Saat
Ini
Klien dengan serangan asma datang
mencari pertolongan terutama dengan keluhan sesak napas yang hebat dan
mendadak, kemudian diikuti dengan gejala-gejala lain seperti wheezing,
penggunaan otot bantu pernapasan,
kelelahan, gangguan kesadaran, sianosis, dan perubahan tekanan darah.
Serangan
asma mendadak secara klinis dapat dibagi menjadi tiga stadium. Stadium pertama
ditandai dengan batuk-batuk berkala dan kering. Batuk ini terjadi karena
iritasi mukosa yang kental dan mengumpul. Pada stadium ini terjadi edema dan
pembengkakan bronkhus. Stadium kedua ditandai dengan batuk disertai mukus yang
jernih dan berbusa. Klien merasa sesak napas, berusaha untuk bernapas dalam,
ekspirasi memanjang diikuti bunyi mengi(wheezing). Klien lebih suka duduk
dengan tangan diletakkan pada pinggir tempat tidur, tampak pucat, gelisah, dan
warna kulit mulai membiru. Stadium ketiga ditandai dengan hampir tidak
terdengarnya suara napas karena aliran udara kecil, tidak ada batuk, pernapasan
menjadi dangkal dan tidak teratur, irama pernapasan meningkat karena asfiksia. (Muttaqin, 2008)
Perawat perlu mengkaji obat-obatan yang
biasa diminum klien dan memeriksa kembali setiap jenis obat apakah masih
relevan untuk digunakan kembali. (Muttaqin, 2008)
4)
Riwayat Penyakit Dahulu
Penyakit yang pernah diderita pada
masa-masa dahulu seperti adanya infeksi pernapasan atas, sakit tenggorokan,
amandel, sinusitis, dan polip hidung. Riwayat serangan asma, frekuensi, waktu,
dan alergen-alergen yang mencurigai sebagai pencetus serangan, serta riwayat
pengobatan yang dilakukan untuk meringankan gejala asma. (Muttaqin, 2008)
5)
Riwayat Penyakit
Keluarga
Menurut Hood
Alsagaf, (1993) pada klien dengan
serangan asma perlu dikaji tentang riwayat penyakit asma atau penyakit alergi
yang lain pada anggota keluarganya karena hipersensitivitas pada penyakit asma
ini lebih ditentukan oleh faktor genetik dan lingkungan. (Muttaqin, 2008)
6)
Pengkajian
Psiko-sosio-kultural
Kecemasan dan koping yang tidak efektif
sering didapat pada klien dengan asma bronkhial. Status ekonomi berdampak pada
asuransi kesehatan dan perubahan mekanisme peran dalam keluarga.
Gangguan emosional sering dipandang sebagai salah satu pencetus
bagi serangan asma baik gangguan itu berasal dari rumah tangga, lingkungan
sekitar, sampai lingkungan kerja. Seorang dengan beban hidup yang berat lebih
berpotensial mengalami serangan asma. Berada dalam keadaan yatim piatu,
mengalami ketidakharmonisan hubungan dengan orang lain, sampai mengalami
ketakutan tidak dapat menjalankan peranan seperti semula. (Muttaqin, 2008)
a)
Pola Resepsi dan Tata Laksana
Hidup Sehat
Gejala asma dapat membatasi
manusia untuk berperilaku hidup normal sehingga klien dengan asma harus
mengubah gaya hidupnya sesuai kondisi yang tidak akan menimbulkan serangan
asma.
b)
Pola Hubungan dan Peran
Gejala asma sangat membatasi klien untuk
menjalani kehidupannya secara normal. Klien perlu menyesuaikan kondisinya
dengan hubungan dan peran klien, baik di lingkungan rumah tangga, masyarakat,
ataupun lingkungan kerja serta perubahan peran yang terjadi setelah klien
mengalami serangan asma.
c)
Pola Persepsi dan
Konsep Diri
Gejala dikaji persepsi klien terhadap
penyakitnya. Persepsi yang salah dapat menghambat respon kooperatif pada diri
klien. Cara memandang diri yang salah juga akan menjadi stresor yang ada pada
kehidupan klien dengan asma dapat meningkatkan kemungkinan serangan asma
berulang.
d) Pola
Penanggulangan Stres
Stress
dan ketegangan emosional merupakan faktor instrinsik pencetus serangan asma.
Oleh karena itu, perlu dikaji penyebab terjadinya stres. Frekuensi dan pengaruh
stres terhadap kehidupan klien serta cara penanggulangan terhadap stresor.
e)
Pola Sensorik dan
Kognitif
Kelainan pada pola persepsi dan kognitif
akan memengaruhi diri klien dan akhirnya memengaruhi jumlah stresor yang
dialami klien sehingga kemungkinan terjadi serangan asma berulang pun akan semakin
tinggi.
f)
Pola Tata Nilai dan
Kepercayaan
Kedekatan klien pada sesuatu yang
diyakininya di dunia dipercaya dapat meningkatkan kekuatan jiwa klien.
Keyakinan klien terhadap Tuhan dan mendekatkan diri kepada-Nya merupakan metode
penanggulangan stres yang konstruktif.
7)
Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan
fisik Head to toe menurut (Muttaqin, 2008)
a)
Tanda – tanda vital
Pada tanda – tanda vital ditemukan adanya peningkatan
frekuensi pernapasan, tekanan darah meningkat, dan peningkatan nadi. (Muttaqin,
2008)
b)
Hidung
Sering menderita alergi serbuk sari, pilek, sesak nafas,
bersin berulang.(Musliha, 2010)
c)
Mulut dan laring
Mual / muntah, nafsu makan
menurun, ketidakmampuan untuk makan. (Wijaya dan Putri, 2013)
d) Thorak
(1) Paru
:
Inspeksi : Dada
diinspeksi terutama postur bentuk dan kesimetrisan adanya
peningkatan diameter anteroposterior,
retraksi otot-otot interkostalis,
adanya peningkatan frekuensi pernapasan serta penggunaaan
otot bantu pernapasan. (Muttaqin, 2008)
Ekspirasi
selalu lebih susah dan panjang dibanding
inspirasi (Wijaya dan Putri, 2013).
Palpasi : Pada
palpasi ditemukan
kesimetrisan, ekspansi dan taktil fremitus
normal. hipersonor
sedangkan diafragma menjadi datar dan rendah. (Muttaqin, 2008)
Auskultasi : Terdapat
suara vesikuler yang meningkat disertai dengan ekspirasi lebih dari 4 detik atau lebih
dari 3x inspirasi, dengan bunyi pernapasan
dan wheezing. (Muttaqin, 2008)
e)
Abdomen.
Perlu
dikaji tentang bentuk, turgor, nyeri, serta tanda-tanda infeksi karena dapat
merangsang serangan asma, pada klien dengan
sesak napas, sangat potensial terjadi kekurangan pemenuhan kebutuhan nutrisi
karena dipsnea saat makan, serta kecemasan yang dialami klien (Muttaqin, 2008).
f) Ekskremitas.
Adanya
edema, tremor dan tanda-tanda infeksi pada ekstremitas karena dapat merangsang
serangan asma. (Muttaqin, 2008)
Sianosis
sekunder terhadap hipoksia hebat, dan gejala-gelaja retensi karbondioksida,
termasuk berkeringat, takikardi dan pelebaran tekanan nadi (Wijaya dan Putri, 2013).
8)
Pemeriksaan Diagnostik. (Muttaqin, 2008)
a) Pengukuran
Fungsi Paru (Spirometri)
Pengukuran ini dilakukan sebelum dan
sesudah pemberian bronkodilator aerosol adrenergik. Peningkatan FEV atau FVC
sebanyak lebih dari 20% menunjukkan diagnosis asma.
b) Tes
Provokasi Bronkhus
Tes ini dilakukan pada Spirometri
internal. Penurunan FEV sebesar 20% atau lebih setelah tes provokasi san denyut
jantung 80-90% dari maksimum dianggap bermakna bila meninmbulkan penurunan PEFR
10% atau lebih.
c) Pemeriksaan
Kulit
Untuk menunjukkan adanya antibodi IgE
hipersensitif yang spesifik dalam tubuh.
d) Pemeriksaan
Laboratorium
(1) Analisis
Gas Darah (AGD/Astrup)
Hanya
dilakukan pada serangan asma berat karena terdapat hipoksemia, hiperkapnea, dan
asidosis respiratorik.
(2) Sputum
Adanya
badan kreola adalah karakteristik untuk serangan asma yang berat, karena hanya
reaksi yang hebat saja yang menyebabkan transudasi dari edema mukosa, sehingga
terlepaslah sekelompok sel-sel epitel dari perlekatannya. Pewarnaan gram
penting untuk melihat adanya bakteri, cara tersebut kemudian diikuti kultur dan
uji terhadap beberapa antibiotik
(3) Sel
eosinofil
Sel
eosinofil pada klien dengan status asmatikus dapat mencapai 1000-1500/mm3
baik asma intrinsik ataupun ekstrinsik, sedangkan hitung jenis sel eosinofil
normal antara 100-200/mm3. Perbaikan fungsi paru disertai penurunan
hitung jenis sel eosinofil menunjukkan pengobatan telah tepat.
(4) Pemeriksaan
darah rutin dan kimia
Jumlah
sel leukosit yang lebih dari 15.000/mm3 terjadi karena adanya
infeksi. SGOT dan SGPT meningkatkan disebabkan kerusakan hati akibat hipoksia
atau hiperkapnea.
e) Pemeriksaan
Radiologi
Hasil
pemeriksaan radiologi pada klien dengan asma bronkhial biasanya normal, tetapi
prosedur ini harus tetap dilakukan untuk menyingkirkan kemungkinan adanya
proses patologi di paru atau komplikasi asma seperti pneumothoraks,
pneumomediastinum, dan lain-lain.
(Muttaqin, 2008)
b. Diagnosa Keperawatan
1)
Ketidakefektifan
bersihan jalan napas yang berhubungan dengan bronkhokonstriksi, bronkhospasme,
edema mukosa dan dinding bronkhus, serta sekresi mukus yang kental.
2)
Ketidakefektifan
pola napas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia,
dan ancaman gagal napas.
3)
Gangguan pertukaran
gas yang berhubungan dengan serangan asma menetap.
4)
Gangguan pemenuhan
nutrisi : kurang dari kebutuhan tubuh yang berhubungan dengan penurunan nafsu
makan.
5)
Kurangnya
pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai
proses penyakit dan pengobatan.
(Muttaqin, 2008)
c. Intervensi Keperawatan
No.
|
Diagnosa
Keperawatan
|
Tujuan
dan
Kriteria
Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1)
|
Bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: bronkospasme,
peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan, kental) menurunnya energi / fatigue.
|
Dalam waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi
kebersihan jalan napas kembali efektif
Kriteria Hasil
a)
Dapat
mendemonstrasikan batuk efektif
b)
Dapat
menyatakan strategi untuk menurunkan kekentalan sekresi.
c)
Tidak ada
suara napas tambahan dan wheezing
(-)
d)
Pernapasan
klien normal (16 - 20 x / menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
|
a)
Kaji warna,
kekentalan, dan jumlah sputum.
b)
Atur posisi
semifowler.
c)
Ajarkan cara
batuk efektif.
d)
Bantu klien
latihan napas dalam.
e)
Pertahankan
intake cairan sedikitnya 2500 ml/hari kecuali tidak diindikasikan.
f)
Lakukan
fisioterapi dada dengan teknik postural drainase, perkusi dan fibrasi dada.
Kolaborasi pemberian obat
Bronkodilator golongan B2
g)
Nebulizer
(via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0.25 mg, fenoterol HBr 0.1%
solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg.
h)
Intravena
dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg /
kgBB.
i)
Agen
mukolitik & espektoran.
j)
Kortikosteroid.
|
a)
karakteristik
sputum dapat menunjukan berat ringannya obstruksi.
b)
Meningkatkan
ekspansi dada.
c)
Batuk yang
terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran sekret yang melekat di
jalan napas.
d)
Ventilasi
maksimal membuka lumen jalan napas dan meningkatkan gerakan sekret ke dalam
jalan napas besar untuk dikeluarkan.
e)
Hidrasi yang
adekuat membantu mengencerkan sekret dan mengefektifkan pembersihan jalan
napas.
f)
Fisioterapi
dada merupakan strategi untuk mengeluarkan sekret
g)
Pemberian
bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkhus yang mengalami
spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
h)
Pemberian
secara intravena merupakan usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan napas dapat
optimal.
i)
Agen
mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan
pembersihan. Agen ekspektoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengketan
jalan napas.
j)
Kortikosteroid
berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan rekasi
inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkhus.
|
2)
|
Ketidakefektifan pola napas yang
berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia, dan ancaman
gagal napas.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan
diharapkan pola napas kembali efektif dalam waktu 2 x 24 jam.
Kriteria Hasil
a) Menunjukan pola pernapasan efektif.
b) Bunyi napas tambahan tidak ada.
c) Tidak ada pengguaan otot bantu pernapasan.
d) Napas pendek tidak ada.
e) RR
dalam batas normal (16x/menit-24x/menit)
f) Ekspansi dada simetris
|
a) Kaji
frekuensi kedalaman pernapasan dan ekspansi dada.
b) Catat
upaya pernapasan termasuk penggunaan otot bantu pernapasan.
c) Auskultasi
bunyi napas dan catat adanya bunyi napas dan catat adanya bunyi napas
tambahan.
d) Tinggikan
kepala dan bantu
mengubah posisi bpasien.
e) Observasi
pola batuk dan karaktek secret.
f) Dorong/bantu
pasien dalam napas dan latihan batuk.
Kolaborasi
g) Berikan
oksigen tambahan,berikan humidifikasi tambahan
misalnya nebulizer.
|
a) Kecepatan
biasanya mencapai kedalaman bervariasi tergantung derajat gagal napas.
b) Ekspansi
dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada.
c) Bunyi
napas menyertai obstruksi jalan napas/kegagalan napas.
d) Memungkinkan
ekspansi paru dan memudahkan pernapasan.
e) Kongesti
alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi.
f) Batuk
yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran secret yang melekat
di jalan napas.
g) Memaksimalkan
bernapas dan menurunkan kerja napas, memberikan kelembapan pada membrane
mukosa dan membantu pengenceran secret.
|
3)
|
Kerusakan pertukaran gas b/d gangguan suplai O2,
kerusakan alveoli.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan ventilasi dan oksigenasi jaringan
adekuat.
Kriteria
Hasil
Menunjukkan
perbaikan ventilasi dan oksigenasi jaringan adekuat dengan GDA dalam rentang
normal dan bebas gejala distres pernafasan.
Berpartisipasi
dalam program pengobatan sesuai dengan tingkat kemampuan / situasi klien.
|
a)
Kaji frekuensi,
kedalaman pernafasan.
b)
Tinggikan kepala
tempat tidur, bantu pasien untuk memilih posisi yang mudah untuk bernafas.
c)
Palpasi fremitus.
d)
Awasi tingkat
kesadaran / status mental.
Kolaborasi
e)
Awasi / gambarkan
seri GDA dan nadi oksimetri.
|
a)
Berguna dalam
evaluasi derajat distres pernafasan dan / kronisnya proses penyakit
b)
Pengiriman oksigen
dapat diperbaiki dengan posisi duduk tinggi dan latihan nafas untuk
menurunkan kolaps jalan nafas, dispnea dan kerja nafas.
c)
Penurunan getaran
fibrasi diduga ada pengumpalan cairan atau udara terjebak.
d)
Gelisah dan ansietas
adalah manifestasi umum pada hipoksia
e)
Pada CO2
biasanya meningkat (bronchitis, emfisema) dan PaO2 secara umum
menurun, sehingga hipoksia terjadi dengan derajat lebih kecil atau lebih
besar.
|
4)
|
Gangguan pemenuhan nutrisi : kurang dari kebutuhan
tubuh yang berhubungan dengan penurunan nafsu makan.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan kebutuhan nutrisi terpenuhi
Kriteria Hasil
Menunjukkan
perilaku perubahan pola hidup
untuk meningkatkan dan atau mempertahankan berat yang tepat.
|
a)
Kaji kebiasaan diet,
masukan makanan saat ini.
b)
Dorong penode
istirahat semalam 1 jam sebelum dan sesudah makan.
c)
Hindari makanan
penghasil gas dan minuman karbonat.
d)
Timbang berat badan
sesuai indikasi.
Kolaborasi
e)
Konsul ahli gizi /
nutrisi pendukung tim untuk memberikan makanan yang mudah dicerna, secara
nutrisi seimbang.
|
a)
Pasien distres
pernafasan akut sering
anoreksia karena dispnea, produksi sputum dan obat.
b)
Membantu menurunkan
kelemahan selama waktu makan dan memberikan kesempatan untuk meningkatkan
masukan katori total.
c)
Dapat menghasilkan
distensi abdomen yang mengganggu nafas abdomen dan gerakan diafragma dan
dapat meningkatkan dispnea.
d)
Berguna untuk
menentukan kebutuhan kalori, menyusun tujuan berat badan, dan evaluasi
keadekuatan rencana nutrisi.
e) Metode
makan & kebutuhan
kalori didasarkan pada situasi / kebutuhan individu untuk memberikan nutrisi
maksimal dengan upaya minimal pasien.
|
5)
|
Kurangnya
pengetahuan yang berhubungan dengan informasi yang tidak adekuat mengenai
proses penyakit dan pengobatan.
|
Menyatakan
pemahaman kondisi/proses penyakit dan tindakan.
|
a)
Jelaskan
tentang penyakit kepada Individu.
b)
Diskusikan
obat pernafasan, efek samping dan reaksi yang tidak diinginkan.
c)
Tunjukkan
tehnik penggunaan inhaler
|
a)
Menurunkan
ansietas dan dapat menimbulkan perbaikan partisipasi pada rencana pengobatan.
b)
Penting bagi
pasien memahami perbedaan antara efek samping mengganggu dan merugikan.
c)
Pemberian
obat yang tepat meningkatkan keefektifanya
|
|

Asuhan Keperawatan
Nama
Mahasiswa : Muchammad Amru Shodiq
NIM : 11100075
Tanggal
MRS : 19 - 05 - 2014 Jam : 14.30 WIB
Tanggal
Pengkajian : 20 - 05 - 2014 Jam : 13.00 WIB
I.
Identitas
Nama
: Ny. C
Umur
: 29 Tahun
No.Register
: 09.13.49.76
Agama
: Islam
Alamat
: Kapas, Sukomoro
Pendidikan
: SMP
Pekerjaan
: IRT
Tanggal
MRS : 19-05-2014
Diagnosa
Medis : Asma Bronkhiale
Penanggung : BPJS
II.
Keluhan Utama
Pasien
mengeluh sesak
III.
Riwayat Penyakit
Sekarang

IV.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien
mengatakan mengalami sesak sejak 5 tahun yang lalu, dan sering keluar masuk
rumah sakit karena keluhan yang sama, pasien mengatakan sesaknya kambuh-kambuhan
tidak mempunyai riwayat infeksi atau sakit yang lainnnya
V.
Riwayat Kesehatan
Keluarga
Pasien
mengatakan keluarganya tidak ada yang mempunyai keluhan sesak seperti dirinya.
Genogram

Keterangan
:





|





VI.
Pola Aktivitas
Sehari-hari
1. Pola
persepsi dan tata laksana hidup sehat
-
Sebelum sakit : pasien mengatakan kebersihan lingkungan
dijaga sekedarnya
-
Saat sakit : pasien mengatakan lingkungan tempat
tidur perawatan pasien tampak kurang bersih dan kurang tertata
2. Pola
hubungan dan peran
-
Sebelum sakit :pasien sebelumnya dapat bekerja sebagai
karyawan warung bakso
-
Saat sakit : pasien kini tidak dapat bekerja karena
kerap kali merasa sesak napas
3. Pola
persepsi dan konsep diri
-
Sebelum sakit : pasien mengatakan tidak merasa minder dengan
lingkungan sekitar
-
Saat sakit : pasien mengatakan tidak merasa minder
dengan sakitnya
4. Pola
penanggulangan stress
-
Sebelum sakit : pasien
mengatakan tidak terlalu stress sebelum sakit
-
Saat sakit : pasien mengatakan terkadang stress karena
sakitnya, dan biasa pasien tidur untuk menanggulangi stressnya, pasien cemas
dan terlihat menangis saat sesaknya kambuh
5. Pola
sensorik dan kognitif
- Sebelum
sakit : pasien mengatakan kurang begitu
mengerti tentang sakitnya
- Saat
sakit : pasien mengatakan mengerti
sedikit tentang sakitnya dari perawat di rumah sakit, pasien menanyakan apakah
sakitnya bisa disembuhkan
6. Pola
makan dan minum
-
Sebelum sakit : pasien
makan 3x sehari dengan porsi sedang dan minum air putih 7 - 8 gelas / hari
-
Saat sakit : pasien makan 3x sehari dengan porsi
sedang dan minum air putih 7 - 8 gelas / hari, pasien alergi pada telur, daging
ayam, ikan laut.
7. Pola
eliminasi
-
Sebelum sakit : pasien
BAB 1x /hari dengan konsistensi lembek dan BAK sekitar 4-5x sehari dengan warna
kuning jernih, bau khas amonia
-
Saat sakit :
pasien BAB 1x /hari dengan konsistensi lembek dan BAK sekitar 4-5x sehari
dengan warna kuning jernih, bau khas amonia, pasien eliminasi dengan mandiri
8. Pola
istirahat tidur
pasien tidur
siang dan tidur malam sekitar 8 - 9 jam sehari, namun terkadang sesaknya kambuh
pada malam hari sehingga mengganggu tidur pasien
9. Pola
personal hygiene
-
Sebelum sakit : pasien biasa mandi 2x / hari
-
Saat sakit :
pasien biasa mandi 2x / hari
VII.
Pemeriksaan Fisik
A. Keadaan
umum
KU lemah,
kesadaran composmentis, GCS 4 - 5 - 6
B. Tanda
- tanda Vital
Tekanan darah : 100/60 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR : 28x/menit
Suhu : 36,4oC
C. Pemeriksaan
head to toe
1) Mata
Inspeksi : Konjungtiva merah muda, sklera
putih, pergerakan bola mata simetris, ekspresi wajah pasien nampak gelisah
2) Hidung
Inspeksi
: Terpasang oksigen masker, ada
pernapasan cuping hidung
3) Leher
Inspeksi
: Tidak ada pembesaran vena
jugularis, tidak ada jaringan parut, tidak ada nyeri telan
Palpasi
: Tidak ada pembesaran
kelenjar tyroid
4) Mulut
Inspeksi
: Mukosa bibir lembab, mulut dan
lidah bersih, gigi bersih
5) Thorak
Paru-paru
Inspeksi : Terjadi retraksi otot-otot
interkostalis, terjadi penggunaan otot bantu pernapasan (otot-otot abdomen),
peningkatan frekuensi pernapasan (takipnea), batuk tidak efektif
Palpasi : Getaran
vokal fremitus normal
Perkusi :
Sonor
Auskultasi : Terdapat whezzing pada RU dan LU paru, fase ekspirasi memanjang
Jantung
Inspeksi : Dada simetris, tidak ada jejas
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan
Perkusi : Redup pada ICS II - V
midklavikularis sinistra
Auskultasi : Denyut jantung 88x/m, irama teratur,
suara S1 S2 tunggal
6) Abdomen
Inspeksi
: Perut simetris, terlihat
jaringan lemak pada abdomen (buncit)
Palpasi
: Terdapat nyeri tekan pada regio
3-4
Perkusi : Tympani
Auskultasi : Bising usus 20x/m
7) Ekskremitas
Inspeksi : Pergerakan lambat
-
Ekskremitas atas
Inspeksi : Pada tangan kanan terpasang infus
Palpasi : Tidak ada nyeri tekan, CRT >2 detik, cyanosis
-
Ekskremitas bawah
|
-
Kekuatan otot

8) Integumen
Inspeksi
: Turgor kulit baik, mukosa
bibir lembab, terdapat jaringan lemak
D. Pemeriksaan
penunjang
Pemeriksaan labiraturium
Ny. C (pemeriksaan hematologi)
Ruang Puspa
Indah tanggal 20-05-2014
Pemeriksaan
|
Hasil
|
Satuan
|
Nilai
rujukan
|
Leukosit
Jumlah
Eritrosit
Hemoglobin
Hematokrit
MCV
MCH
MCHC
Trombosit
RDW
- SD
RDW
- CV
PDW
MPV
P
- LCR
PCT
|
6.82
4.44
13.0
37.6
84.7
29.3
34.6
310
40.1
13.3
9.5
9.4
19.3
0.29
|
10^3uL
10^6/uL
g/dL
%
fL
pg
g/L
10^3/uL
fL
%
fL
fL
%
%
|
3.80
- 10.60
4.40
- 6.00
13.2
- 17.3
40.0
- 52.0
80.0
- 100.0
26.0
- 34.0
32.0
- 36.0
150
- 400
37
- 54
11.0
- 15.0
|
Pemeriksaan labiraturium Ny. C
(pemeriksaan serum)
Ruang Puspa Indah
tanggal 20-05-2014
Test
|
Result
|
Normal
Range
|
SGOT
SGPT
Glukosa
acak
Ureum
Creatinin
Uric
acid
|
16.6
u/L
23.8
u/L
74
mg/dl
16.2
0.26
5.7
|
0.0
- 35.0 u/L
0.0
- 45.0 u/L
0
- 140 mg/dl
15.0
- 40.0 mg/dl
0.51
- 0.95 mg/dl
2.4
- 5.7 mg/dl
|
VIII.
Penatalaksanaan
Tanggal
20-05-2014
-
Observasi TTV
-
Infus RL + Aminophilin
1 ampul 10ml (240mg) 4 tpm
-
Injeksi ceftriaxone 2 X
1 gram
-
Injeksi dhipenhidramine
3 x 50 mg
-
Oksigen masker 5 lpm
Analisa
Data
Nama
Pasien : Ny. C
No.
Register : 09.13.49.76
Ruang : Puspa Indah
Tanggal
: 20- 05 - 2014
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Problem
|
||
1
|
Ds : Pasien mengeluh
sesak
Pasien
mengatakan alergi pada debu, asap, udara dingin, dan makanan tertentu(telur,
ayam, ikan laut)
Do
:
a.
Terdapat suara napas
tamabahan (wheezing)
b.
Terjadi perubahan
frekuensi pernapasan (28 x/mnt)
c.
Batuk tidak efektif
d.
Sekret sulit keluar
e.
Terdapat sianosis
f.
Pasien tampak gelisah
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR :28x/menit
Suhu : 36,4oC
|
Peningkatan usaha dan frekuensi
pernapasan, penggunaan otot bantu pernapasan
|
Ketidakefektifan
bersihan jalan napas
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
Problem
|
2
|
Ds
: Pasien mengeluh sesak
Do
: K/U lemah
a. Terdapat
retraksi otot-otot interkostalis
b. Terjadi
penggunaan otot bantu pernapasan (otot-otot abdomen),
c. Terjadi
peningkatan frekuensi pernapasan (Takipnea)
d. Fase ekspirasi memanjang
e. Terjadi
pernapasan cuping hidung
TTV
: TD : 100/60 mmHg
Nadi : 88 x/menit
RR : 28x/menit
Suhu : 36,4oC
|
Peningkatan kerja pernapasan
|
Ketidakefektifan
pola napas
|
No
|
Data
|
Etiologi
|
|
||
3
|
Ds : pasien
mengatakan sesaknya kambuh-kambuhan
Do
:
-
Pasien tidak tahu
banyak tentang penyakit asma yang dideritanya dibuktikan dengan pasien
menanyakan apakah sakitnya dapat disembuhkan
-
2 hari di ruang
perawatan sesak kambuh 2 x
-
Lingkungan sekitar
tempat tidur pasien tampak kurang tertata / kurang bersih
|
Kurangnya paparan
informasi
|
Kekambuhan berulang
|
|
(1) Bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret
(sekret yang tertahan, kental).
(2) Ketidakefektifan
pola napas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan, dan ancaman
gagal napas.
(3) Kekambuhan
berulang yang berhubungan dengan kurangnya paparan informasi tentang penyakit.
No.
|
![]()
Keperawatan
|
Tujuan
dan
Kriteria Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1)
|
Bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan:, peningkatan produksi sekret
(sekret yang tertahan, kental)
|
Dalam
waktu 3 x 24 jam setelah diberikan intervensi kebersihan jalan napas kembali
efektif
Kriteria
Hasil
e) Tidak
ada suara napas tambahan seperti wheezing
f) Pernapasan
klien normal (16 - 20 x / menit) tanpa ada penggunaan otot bantu napas.
|
k)
Auskultasi bunyi
napas, catat adanya bunyi napas, mis: mengi, crackles, ronkhi.
l)
Kaji atau pantau
frekuensi pernapasan. Catat rasio inspirasi atau ekspirasi
m) Pertahankan
polusi lingkungan minimum, mis : debu, asap dan bulu bantal yang berhubungn
dengan kondisi individu
n)
Ajarkan batuk efektif
o)
Tingkatkan masukan
cairan sampai 3000ml/ hari sesuai toleransi jantung. Memberikan air hangat.
p)
Atur posisi
semifowler.
Kolaborasi
pemberian obat
Bronkodilator golongan B2
q) Nebulizer
(via inhalasi) dengan golongan terbutaline 0.25 mg, fenoterol HBr 0.1%
solution, orciprenaline sulfur 0.75 mg.
r) Intravena
dengan golongan theophyline ethilenediamine (Aminofilin) bolus IV 5-6 mg /
kgBB.
s) Agen
mukolitik & espektoran.
t) Kortikosteroid.
|
k) Beberapa
derajat spasme bronkhus terjadi dengan obstruksi jalan napas dan dapat atau
tak dimanifestasikan adanya bunyi napas krackles basah ( bronchitis bunyi
nafas teredup dengan ekpresi mengi ( empesema ), atau tak pedanya adanya
bunyi napas ( napas berat )
l)
Pernapasan dapat
merambat dan frekuensi ekspirasi memanjang di banding inspirasi.
m) Pencetus
tipe reaksi alergi pernapasan yang dapat mentriger episode akut.
n) Batuk
yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran sekret yang melekat
di jalan napas
o) Hidrasi
membantu menurunkan kekentalan sekret, mempermudah pengeluaran. Penggunaan
air hangat dapat menurunkan spasme bronkus.
p) Meningkatkan
ekspansi dada.
q) Pemberian
bronkodilator via inhalasi akan langsung menuju area bronkhus yang mengalami
spasme sehingga lebih cepat berdilatasi.
r) Pemberian
secara intravena merupakan usaha pemeliharaan agar dilatasi jalan napas dapat
optimal.
s) Agen
mukolitik menurunkan kekentalan dan perlengketan sekret paru untuk memudahkan
pembersihan. Agen ekspektoran akan memudahkan sekret lepas dari perlengketan
jalan napas.
t) Kortikosteroid
berguna pada keterlibatan luas dengan hipoksemia dan menurunkan rekasi
inflamasi akibat edema mukosa dan dinding bronkhus.
|
2)
|
Ketidakefektifan
pola napas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia,
dan ancaman gagal napas.
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan diharapkan pola napas kembali efektif dalam
waktu 2 x 24 jam.
Kriteria Hasil
g) Menunjukan
pola pernapasan efektif.
h) Tidak
ada pengguaan otot bantu pernapasan.
i)
RR dalam batas normal
(16x/menit-24x/menit)
j)
Ekspansi dada
simetris
|
h) Kaji
frekuensi kedalaman pernapasan dan ekspansi dada.
i) Catat
upaya pernapasan termasuk penggunaan otot bantu pernapasan.
j) Auskultasi
bunyi napas dan catat adanya bunyi napas dan catat adanya bunyi napas
tambahan.
k) Tinggikan
kepala dan bantu mengubah posisi pasien.
l) Observasi
pola batuk dan karaktek secret.
m) Bantu
pasien latihan napas dalam dan batuk efektif.
Kolaborasi
n) Berikan
oksigen tambahan,berikan humidifikasi tambahan misalnya nebulizer.
|
h) Kecepatan
biasanya mencapai kedalaman bervariasi tergantung derajat gagal napas.
i) Ekspansi
dada terbatas yang berhubungan dengan atelektasis dan atau nyeri dada.
j) Bunyi
napas menyertai obstruksi jalan napas/kegagalan napas.
k) Memungkinkan
ekspansi paru dan memudahkan pernapasan.
l) Kongesti
alveolar mengakibatkan batuk sering/iritasi.
m) Batuk
yang terkontrol dan efektif dapat memudahkan pengeluaran secret yang melekat
di jalan napas.
n) Memaksimalkan
bernapas dan menurunkan kerja napas, memberikan kelembapan pada membrane
mukosa dan membantu pengenceran secret.
|
3)
|
Kekambuhan
berulang yang berhubungan dengan kurangnya paparan informasi tentang
penyakit.
|
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3 x 24 jam pasien lebih mengerti tentang penyakitnya dan program perawatan serta terapi yg diberikan
Kriteria hasil :
(a) Menjelaskan kembali tentang
penyakit.
(b) Mengenal kebutuhan perawatan
dan pengobatan tanpa cemas.
(c) Terbebasnya
lingkungan pasien dari hal-hal yang dapat membuat kambuh penyakit
(d) Berkurangnya
frekuensi kekambuhan
|
(a)
Kaji pengetahuan klien tentang penyakitnya
(b)
Jelaskan tentang proses penyakit (tanda dan gejala), identifikasi
kemungkinan penyebab. Jelaskan kondisi tentang klien
(c)
Jelaskan tentang program pengobatan dan alternatif pengobatan
(d)
Diskusikan perubahan gaya hidup yang mungkin digunakan untuk
mencegah komplikasi
(e)
Anjurkan pasien dan keluarga memodifikasi lingkungan perawatan pasien
agar terhindar dari hal - hal yang dapat menimbulkan kekambuhan pada pasien
Kolaborasi
(f)
Kolaborasikan dengan tim gizi diet
yang tepat untuk pasien
|
(a)
Mempermudah dalam memberikan penjelasan pada
klien
(b)
Meningkatan pengetahuan dan mengurangi cemas
(c)
Mempermudah intervensi
(d)
Mencegah keparahan penyakit
(e)
Lingkungan perawatan perlu
dihindarkan dari alergen-alergen yang dapat membuat sesak pasien kambuh
(f)
Diet yang tepat dapat
menghindarkan pasien dari alergi makanan yang dapat membuat sesak paien
kambuh
|
Implementasi
Tabel 3.3 Implementasi Asuhan Keperawatan Ny. C pada
tanggal 20-5-2014 di ruang Puspa Indah RSUD Nganjuk
Tanggal
|
No.Diagnosa
Keperawatan
|
Jam
|
Tindakan
|
Paraf
|
20
- 05 - 2014
|
I
|
13.30
13.30
13.30
13.40
13.45
13.55
14.00
|
1. Mengauskultasi
bunyi napas dan catat adanya bunyi napas dan mencatat adanya bunyi napas
tambahan.
Hasil : terdapat wheezing
pada RU dan LU paru
2. Memantau
dan mencatat frekuensi pernapasan
Hasil : RR : 28 x/menit
3. Mengatur
posisi semifowler.
Hasil : pasien mengatakan lebih rileks meskipun
masih merasakan sesak
4. Memberikan
oksigen masker 5 lpm
Hasil : pasien mengatakan lebih rileks, RR : 26
x/menit
5. Mengajarkan
pasien batuk efektif
Hasil : pasien tampak kooperatif dan mampu
melakukan yang diinstruksikan perawat
6. Menganjurkan
keluarga untuk meminimalkan polusi lingkungan
Hasil : keluarga merapikan barang - barang yang
dianggap dapat menimbulkan kambuhnya sesak pasien
7. Nebulizer
bisolvon + atroven bila kambuh
|
|
|
II
|
13.30
13.30
14.40
13.40
13.40
13.45
|
1. Mengkaji
frekuensi kedalaman pernapasan dan ekspansi dada.
Hasil : RR :28 x /menit, terdapat retraksi
otot-otot interkostalis
2. Mencatat
upaya pernapasan termasuk penggunaan otot bantu pernapasan.
Hasil : terdapat penggunaan otot-otot bantu
pernapasan
3. Meninggikan
kepala dan bantu mengubah posisi pasien.
Hasil : pasien mengatakan lebih rileks
4. Mengobservasi pola batuk dan karaktek sekret.
Hasil : batuk tidak efektif, sekret putih kental
dapat dikeluarkan
5. Membantu
pasien latihan napas dalam dan batuk efektif.
6. Memberikan
oksigen masker 5 lpm
Hasil : pasien mengatakan lebih rilek, RR : 26
x/menit
7. Nebulizer
bisolvon + atroven
|
|
|
III
|
13.50
13.50
13.50
13.55
14.30
|
1.
Mengkaji pengetahuan pasien tentang penyakit asma
Hasil :
pasien tidak tahu banyak tentang asma, dibuktikan dengan pasien menanyakan
apakah sakitnya dapat disembuhkan
2.
Menjelaskan seputar penyakit asma.
Hasil :
pasien mengatakan mengerti dengan apa yang telah dijelaskan dan mengucapkan
terimakasih
3.
Menjelaskan tentang program pengobatan
Hasil :
pasien mengatakan terimakasih
4.
Menganjurkan keluarga memodifikasi lingkungan perawatan pasien
Hasil : keluarga
merapikan barang - barang yang dianggap dapat menimbulkan kambuhnya sesak
pasien
Kolaborasi
5. Mengkolaborasikan
dengan tim gizi diet yang tepat untuk pasien
|
|
21
- 05 - 2014
|
I
|
08:00
08.00
08.10
08.20
|
1. Mengauskultasi
bunyi napas dan catat adanya bunyi napas dan mencatat adanya bunyi napas
tambahan.
Hasil : terdapat wheezing
pada RU dan LU paru
2. Memantau
dan mencatat frekuensi pernapasan
Hasil : RR : 26 x/menit
3. Menganjurkan
keluarga untuk meminimalkan polusi lingkungan
Hasil : keluarga merapikan kembali barang - barang
yang dianggap dapat menimbulkan kambuhnya sesak pasien
4. Mengajarkan
pasien batuk efektif
Hasil : pasien tampak kooperatif dan mampu
melakukan yang diinstruksikan perawat
5. Nebulizer
bisolvon + atroven
|
|
|
II
|
08:00
08.00
08.10
08.20
|
1. Mengkaji
frekuensi kedalaman pernapasan dan ekspansi dada.
Hasil : RR : 26 x /menit, terdapat retraksi
otot-otot interkostalis
2. Mencatat
upaya pernapasan termasuk penggunaan otot bantu pernapasan.
Hasil : terdapat penggunaan otot-otot bantu
pernapasan
3. Mengobservasi pola batuk dan karaktek sekret.
Hasil : batuk tidak efektif, sekret putih kental
dapat dikeluarkan
4. Nebulizer
bisolvon + atroven
|
|
|
III
|
08:00
08.00
08.10
|
1.
Menjelaskan kembali seputar penyakit asma.
Hasil :
pasien mengatakan mengerti dengan apa yang telah dijelaskan.
2.
Menjelaskan kembali tentang program pengobatan
Hasil :
pasien mengatakan terimakasih
3.
Menganjurkan keluarga memodifikasi lingkungan perawatan pasien
Hasil : keluarga
merapikan kembali barang - barang yang dianggap dapat menimbulkan kambuhnya
sesak pasien
|
|
22
- 05 - 2014
|
I
|
08:00
08.00
08.10
|
1. Mengauskultasi
bunyi napas dan catat adanya bunyi napas dan mencatat adanya bunyi napas
tambahan.
Hasil : terdapat wheezing pada RU dan LU paru
2. Memantau
dan mencatat frekuensi pernapasan
Hasil : RR : 26 x/menit
3. Nebulizer
bisolvon + atroven
|
|
|
II
|
08:00
08.00
08.10
08.20
|
1. Mengkaji
frekuensi kedalaman pernapasan dan ekspansi dada.
Hasil : RR : 26 x /menit, terdapat retraksi
otot-otot interkostalis
2. Mencatat
upaya pernapasan termasuk penggunaan otot bantu pernapasan.
Hasil : terdapat penggunaan otot-otot bantu
pernapasan
3. Mengobservasi pola batuk dan karaktek sekret.
Hasil : batuk tidak efektif, sekret putih kental
dapat dikeluarkan
4. Nebulizer
bisolvon + atroven
|
|
|
No.
|
Tanggal
|
Jam
|
Evaluasi
|
TTD
|
1
|
20
- 5 - 2014
|
18.30
|
S : Pasien mengatakan
sesak berkurang daripada kemarin
O :
-
Lingkungan perawatan
pasien lebih bersih, polusi minimal
-
Pasien dapat
mendemonstrasikan batuk efektif
-
Sekret : putih
kental, dapat dikeluarkan
-
Terdapat whezzing
pada RU dan LU paru
TTV
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 120 x/menit
RR : 26 x/menit
Suhu : 36,4oC
A : masalah teratasi
sebagian
P : Lanjutkan
intervensi 1,2,5,6,7
|
|
2
|
18.30
|
S : Pasien mengatakan sesak berkurang
O :
-
Terjadi takipnea
-
Terjadi penggunaan
otot bantu pernapasan
-
Ekspansi dada
simetris
TTV
TD : 100/60
mmHg
Nadi : 120 x/menit
RR :26 x/menit
Suhu : 36,4oC
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi 1,2,4,7
|
|
|
3
|
|
18.40
|
S :
Pasien menanyakan apakah saiktnya dapat disembuhkan
O :
-
Pasien mengerti
dengan apa yang dijelaskan oleh perawat
-
Lingkungan perawatan
pasien tampak bersih dan terbebas dari hal-hal yang dapat membuat kambuh
sesak pasien
TTV
TD : 100/60
mmHg
Nadi : 120 x/menit
RR : 26 x/menit
Suhu : 36,4oC
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi 1,3,4
|
|
Evaluasi
No.
|
Tanggal
|
Jam
|
Evaluasi
|
TTD
|
1
|
21 - 5 - 2014
|
08.00
|
S : Pasien mengatakan
sesak berkurang daripada kemarin
O :
-
Lingkungan perawatan
pasien lebih bersih, polusi minimal
-
Pasien dapat
mendemonstrasikan batuk efektif
-
Sekret : putih
kental, dapat dikeluarkan
-
Terdapat whezzing
pada RU dan LU paru
TTV
TD : 100/60 mmHg
Nadi : 120 x/menit
RR : 26 x/menit
Suhu : 36,4oC
A : Masalah teratasi
sebagian
P : Lanjutkan intervensi 1,2,5
|
|
2
|
08.00
|
S : Pasien mengatakan sesak berkurang
O :
-
Terjadi takipnea
-
Terjadi penggunaan
otot bantu pernapasan
-
Ekspansi dada
simetris
TTV
TD : 100/60
mmHg
Nadi : 120 x/menit
RR :26 x/menit
Suhu : 36,4oC
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi 1,2,4,7
|
|
|
3
|
08.00
|
S :
pasien mengatakan lebih mengerti tentang asma
O :
-
Pasien mengerti
dengan apa yang dijelaskan oleh perawat
-
Lingkungan perawatan
pasien tampak bersih dan terbebas dari hal-hal yang dapat membuat kambuh
sesak pasien
TTV
TD : 100/60
mmHg
Nadi : 120 x/menit
RR : 26 x/menit
Suhu : 36,4oC
A : Masalah teratasi
P : hentikan intervensi
|
|
Evaluasi
No.
|
Tanggal
|
Jam
|
Evaluasi
|
TTD
|
1
|
22 - 5 - 2014
|
08.00
|
S : Pasien mengatakan
sesak berkurang daripada kemarin
O :
-
Lingkungan perawatan
pasien lebih bersih, polusi minimal
-
Pasien dapat
mendemonstrasikan batuk efektif
-
Sekret : putih
kental, dapat dikeluarkan
-
Terdapat whezzing
pada RU dan LU paru
TTV
TD : 110/60 mmHg
Nadi : 100 x/menit
RR : 26 x/menit
Suhu : 36,4oC
A : masalah teratasi
sebagian
P : Lanjutkan
intervensi 1,2,5
|
|
2
|
08.00
|
S : Pasien mengatakan sesak berkurang
O :
-
Terjadi takipnea
-
Terjadi penggunaan
otot bantu pernapasan
-
Ekspansi dada
simetris
TTV
TD :
110/60 mmHg
Nadi : 100 x/menit
RR : 26 x/menit
Suhu : 36,4oC
A : Masalah teratasi sebagian
P : lanjutkan intervensi 1,2,4,7
|
|

PEMBAHASAN
Pada pembahasan kasus
ini penulis akan menguraikan kesenjangan yang ditemukan antara tinjauan pustaka
dan tinjauan kasus nyata yang dilaksanakan penulis dalam memberikan asuhan
keperawatan pada Ny. C yang dimulai pada
tanggal 20 - 22 Mei 2014, sehingga dapat diketahui sejauh mana keberhasilan
proses asuhan keperawatan yang telah dilaksanakan. Dengan mempelajari tinjauan
pustaka tentang Asma Bronkhial dan konsep asuhan keperawatan pasien dewasa
dengan Asma Bronkhial, maka penulis menjadikan dasar teori tersebut untuk
diterapkan dalam melaksanakan asuhan keperawatan Ny. C (29 Tahun) dengan
ketidakefektifan bersihan jalan nafas pada asma bronkhial di ruang Puspa Indah
RSUD Nganjuk. Kesenjangan tersebut terlihat dari aspek-aspek tahapan
keperawatan dimulai dari pengkajian, diagnosa, intervensi, dan implementasi
sampai pada tahap evaluasi keperawatan, pada kenyataannya ditemukan adanya
kesenjangan antara tinjauan pustaka dengan tinjauan kasus nyata pada asuhan
keperawatan yang dilaksanakan.
A.
Pengkajian
1. Riwayat
penyakit sekarang

2. Riwayat
penyakit dahulu
Pada
kasus Ny. C pasien mengalami Pasien mengatakan sering mengalami sesak sejak 5
tahun yang lalu, dan sering keluar masuk rumah sakit karena keluhan yang sama,
tidak mempunyai riwayat infeksi atau sakit yang lainnnya. Sedangkan menurut
Muttaqin (2008) pada pengkajian riwayat penyakit dahulu, penyakit yang pernah
diderita pada masa-masa dahulu seperti adanya infeksi pernapasan atas, sakit
tenggorokan, amandel, sinusitis, dan polip hidung. Dalam kasus ini tidak
ditemukan riwayat infeksi pernapasan atas, sakit tenggorokan, amandel,
sinusitis, dan polip hidung sebelumnya. Hal ini dapat dikarenakan asma yang
diderita pasien murni dicetuskan oleh alergen - alergen yang didapat pasien
dari lingkungan sekitarnya.
3. Riwayat
penyakit keluarga
Pada kasus Ny. C keluarganya tidak ada
yang mempunyai keluhan sesak seperti pasien. Pada tinjauan teori menurut Hood
Alsagaf pada Muttaqin (2008), pada klien dengan serangan asma perlu dikaji
tentang riwayat penyakit asma atau penyakit alergi yang lain pada anggota
keluarganya karena hipersensitivitas pada penyakit asma ini lebih ditentukan
oleh faktor genetik dan lingkungan. Hal ini disebabkan asma yang diderita
pasien lebih dipengaruhi oleh lingkungan di sekitar yang dapat memicu alergi
pencetus asma.
4. Pemeriksaan
fisik
a. Tanda
- tanda Vital
Pada
kasus Ny. C ditemukan peningkatan frekuensi pernapasan namun tidak ditemukan
peningkatan tekanan darah dan nadi, sedangkan menurut tinjauan teori pada tanda
– tanda vital ditemukan adanya peningkatan frekuensi pernapasan, tekanan darah
meningkat, dan peningkatan nadi. Sehingga tidak terjadi kesesuaian antara fakta
dan teori. Hal ini terjadi karena saat pengkajian pasien tidak dalam keadaan
kambuh, meskipun keadaan saat itu pasien terdapat sesak dibuktikan dengan
terkajinya frekuensi pernapasan yang meningkat.
b. Mulut
dan Laring
Pada kasus
Ny. C pasien mampu makan 3x sehari dengan
porsi sedang dan minum air putih 7 - 8 gelas / hari, meskipun terdapat
penurunan nafsu makan menurut anamnesa pasien. Sedangkan menurut tinjauan teori (Wijaya dan
Putri, 2013) pada pemeriksaan mulut dan laring
terdapat mual / muntah, nafsu makan menurun, ketidakmampuan
untuk makan. Sehingga terjadi ketidaksesuaian
antara fakta dan teori, hal ini dikarenakan pasien mampu mentoleransi sesak
yang dialaminya dalam hal kemampuan untuk makan, dibuktikan dengan tampilan
fisik pasien yang tampak gemuk.
c. Ekskremitas
Pada
Ny. C hanya ditemukan berkeringat saja, sedangkan menurut tinjauan teori pada
pemeriksaan ekskremitas, adanya edema, tremor dan tanda-tanda infeksi pada
ekstremitas karena dapat merangsang serangan asma. (Muttaqin, 2008). Sianosis
sekunder terhadap hipoksia hebat, dan gejala-gelaja retensi karbondioksida,
termasuk berkeringat, takikardi dan pelebaran tekanan nadi (Wijaya dan Putri,
2013). Terjadi ketidaksesuaian antara fakta dan teori, hal ini dikarenakan saat
pengkajian pasien tidak dalam keadaan kambuh, sehingga tidak ditemukan tanda-tanda
sebanyak yang dijelaskan pada teori.
d. Pemeriksaan
diagnostik
Pada
kasus Ny. C hanya dilakukan pemeriksaan hematologi saja, sedangkan menurut
tinjauan teori terdapat beberapa pemeriksaan yang dilakukan untuk menunjang
penegakan diagnostik pada asma. Terjadi ketidaksesuaian antara fakta dan teori.
Hal ini dapat dikarenakan keterbatasan alat yang dimiliki Rumah Sakit sehingga
pemeriksaan-pemeriksaan yang lain menurut teori tidak dilakukan.
B.
Diagnosa
Keperawatan
Pada pasien Ny. C (29 Tahun) dengan Asma
Bronkhial muncul masalah keperawatan sebagai berikut :
1. Bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret
(sekret yang tertahan, kental). Diagnosa ini muncul pada Ny. C ditandai adanya
retraksi otot-otot interkostalis, terdapat penggunaan otot bantu pernapasan,
terdapat whezzing, batuk tidak efektif. Menurut teori bersihan jalan napas
ditandai dengan batuk tidak efektif atau tidak ada, tidak mampu mengeluarkan
sekresi di jalan napas, suara napas menunjukkan adanya sumbatan, dan jumlah,
irama, kedalaman pernapasan tidak normal.
2.
Ketidakefektifan pola
napas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia, dan
ancaman gagal napas. Diagnosa ini muncul pada Ny. C ditandai dengan retraksi otot-otot interkostalis, terjadi penggunaan otot bantu
pernapasan, terjadi peningkatan frekuensi pernapasan, terjadi pernapasan cuping
hidung. Menurut teori perubahan pola napas ditandai oleh perubahan pola napas
seperti dyspnea.
3.
Kekambuhan berulang
berhubungan dengan kurangnnya paparan informasi tentang penyakit. Pada kasus
Ny. C ditemukan adanya tanda-tanda antara lain pasien mengatakan sesaknya
kambuh-kambuhan, lalu pasien tidak tahu banyak tentang penyakit asma yang
dideritanya dibuktikan dengan pasien menanyakan apakah sakitnya dapat
disembuhkan, 2 hari di ruang perawatan sesak pasien sudah kambuh 2 x dan
lingkungan tempat tidur perawatan pasien tampak kurang bersih. Namun menurut
tinjauan teori asma bronkhial diagnosa ini tidak muncul. Tapi berdasarkan
temuan - temuan yang didapatkan dalam pengkajian yang sudah dijelaskan di atas
oleh karenanya penulis mengangkat diagnosa kekambuhan berulang tersebut.
C.
Perencanaan
Pada
perencanaan yang dibuat untuk Ny. C yang tidak dilakukan pada pelaksanaan yaitu
Bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret
(sekret yang tertahan, kental). Perencanaan yang tidak dilakukan yaitu
fisioterapi dada dengan teknik postural drainase, perkusi dan fibrasi dada. Hal
ini dikarenakan pasien menolak untuk dilakukan intervensi tersebut
D.
Pelaksanaan
Pelaksanaan yang dilakukan pada Ny.
C dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang dialami oleh pasien.
Menurut teori jalan napas memiliki otot polos hipertrofi yang berkontraksi
selama serangan, menyebabkan bronkokonsrtiksi. Di samping itu, terdapat
hipertrofi kelenjar mukosa, edema dinding bronkial, dan infiltrasi ekstensif
oleh eosinofil dan limfosit. Mukus bertambah jumlahnya dan abnormal menjadi
kental, kenyal, dan bergerak lambat. Pada kasus yang berat, banyak jalan napas
yang tersumbat oleh sumbatan mukus, mungkin sebagian dibatukan dalam sputum.
Sputum tersebut khasnya sedikit dan putih. Oleh karena itu diperlukan
penanganan segera. Pelaksanaan yang dilakukan sesuai dengan perencanaan karena
dapat mempercepat proses penyembuhan.
E.
Evaluasi
Evaluasi pada pasien Ny. C (29 Tahun)
dengan Asma Bronkhial dengan diagnosa keperawatan :
1. Bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan peningkatan produksi sekret
(sekret yang tertahan, kental). Diagnosa ini muncul pada Ny. C ditandai adanya
retraksi otot-otot interkostalis, terdapat dyspnea, terdapat penggunaan otot
bantu pernapasan, terdapat whezzing. Diagnosa keperawatan ini teratasi sebagian
karena Ny. C. Menurut teori diagnosa ini dapat teratasi dalam waktu 3 x 24 jam
ditandai dengan tidak ada suara napas tambahan seperti wheezing, pernapasan
klien normal (16 - 20x/menit) tanpa ada penggunaan otot bantu pernapasan. Tidak
terjadi kesesuaian antara fakta dan teori karena pasien masih mengeluhkan sesak
meskipun tidak separah sebelumnya.
2. Ketidakefektifan
pola napas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan, dan ancaman
gagal napas. Diagnosa ini muncul pada Ny. C ditandai adanya retraksi otot-otot
interkostalis, terdapat dyspnea, ekspresi wajah pasien nampak menahan sesak.
Menurut teori diagnosa ini dapat teratasi dalam waktu 2 x 24 jam ditandai
dengan efektifnya pola napas, tidak adanya bunyi napas tambahan, tidak ada
penggunaan otot bantu pernapasan, napas pendek tidak ada, pernapasan klien
normal (16 - 20x/menit), ekspansi dada simetris. Diagnosa keperawatan ini
teratasi sebagian karena Ny. C masih mengeluhkan sesak meskipun wheezing hampir
tidak terdengar dan separah sebelumnya.
3. Kekambuhan
berulang berhubungan dengan kurangnya paparan informasi tentang penyakit ditandai
dengan pasien mengatakan sesaknya kambuh-kambuhan, lalu pasien tidak tahu
banyak tentang penyakit asma yang dideritanya dibuktikan dengan pasien
menanyakan apakah sakitnya dapat disembuhkan, 2 hari di ruang perawatan sesak
pasien sudah kambuh 2x dan lingkungan tempat tidur perawatan pasien tampak
kurang bersih. Menurut teori diagnosa ini dapat teratasi dalam waktu 3 x 24 jam
ditandai dengan pasien dapat menjelaskan kembali tentang penyakit mengenal kebutuhan perawatan dan pengobatan, terbebasnya lingkungan
pasien dari hal-hal yang dapat membuat kambuh penyakit, berkurangnya frekuensi kekambuhan. Diagnosa
keperawatan ini teratasi karena kriteria hasil terpebuhi.

PENUTUP
Setelah menguraikan pembahasan dan kasus pasien asma
bronkhial di Puspa Indah RSUD Nganjuk tanggal 20 - 22 Mei 2014, maka pada bab
ini dapat ditarik kesimpulan dan saran sebagai berikut:
A.
Kesimpulan
1. Pengkajian
Ny. C (29 Tahun) dengan keluhan
sesak, keadaan umum lemah, kesadaran
composmentis dan dari hasil pemeriksaan fisik ditemukan adanya retraksi
otot-otot interkostalis, penggunaan otot bantu pernapasan, dan terdengar
whezzing.
2. Diagnosa
Keperawatan
Didapatkan
2 diagnosa keperawatan 1 diagnosa keperawatan pada hari ke-2 pada Ny. C (29
Tahun) pada kasus asma bronkhial yaitu bersihan jalan napas tidak efektif
berhubungan dengan peningkatan produksi sekret (sekret yang tertahan,
kental) sebagai diagnosa prioritas,
Ketidakefektifan pola napas yang berhubungan dengan peningkatan kerja
pernapasan, dan ancaman gagal napas sebagai diagnosa yang kedua, dan kekambuhan
berulang berhubungan dengan kurangnya paparan informasi tentang penyakit
sebagai diagnosa yang ketiga.
![]() |
3. Perecanaan
Keperawatan
Perencanaan dilakukan pada Ny. C
dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang dialami oleh pasien.
4. Tindakan
Keperawatan
Pelaksanaan yang dilakukan pada Ny.
C dilakukan sesuai dengan kebutuhan dan keadaan yang dialami oleh pasien.
5. Evaluasi
Keperawatan
Evaluasi dan pelaksanaan
keperawatan disesuaikan dengan kondisi pasien dan pencapaian dari kriteria
hasil yang ditetapkan.
a. Bersihan
jalan napas tidak efektif berhubungan dengan: bronkospasme, peningkatan
produksi sekret (sekret yang tertahan, kental). Dalam waktu 3 x 24 jam diagnosa
keperawatan ini teratasi sebagian.
b. Ketidakefektifan
pola napas yang berhubungan dengan peningkatan kerja pernapasan, hipoksemia,
dan ancaman gagal napas. Dalam waktu 2 x 24 jam diagnosa keperawatan ini
teratasi sebagian.
c. Kekambuhan
berulang berhubungan dengan kurangnya paparan informasi tentang penyakit. Dalam
waktu 3 x 24 jam diagnosa keperawatan ini dapat teratasi.
B.
Saran
Berdasarkan dari simpulan diatas
maka penulis dapat memberikan saran sebagai berikut:
1. Rumah
Sakit
a. Selalu
bekerja sama dengan tim kesehatan atau pihak terkait lainnya guna memberikan
mutu pelayanan kesehatan yang berkualitas sesuai dengan standar pelayanan
kesehatan.
b. Melengkapi
sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk menunjang pelayanan kesehatan,
khususnya pada pasien dengan gastroenteritis.
c. Memberikan
pelayanan kesehatan secara profesionalisme tanpa memandang status pasien.
2. Sesama
Profesi
a. Perawat
hendaknya melakukan pendekatan dengan baik kepada pasien dan keluarga
sehubungan data yang didapatkan betul-betul akurat dan mampu mengidentifikasi
serta menemukan masalah keperawatan yang dialami pasien.
b. Dalam
mengidentifikasi masalah yang muncul pada pasien, hendaknya berfokus pada
masalah yang bersifat urgen, lalu mengatasi masalah yang bersifat resiko.
c. Dalam
melaksanakan asuhan keperawatan diharapkan perawat melaksanakan tindakan sesuai
kondisi pasien dan berdasarkan teori yang ada.
d. Pendokumentasian
hendaknya dilakukan perawat sesuai protap yang telah dilakukan sehingga ada
pertanggung jawaban dan pertanggung gugatan yang diberikan kepada pasien.
3. Studi
kasus selanjutnya
a. Meningkatkan
kemampuan dan pemahaman tentang masalah asma bronkhial dan dapat menerapkannya
dalam asuhan keperawatan
b. Memberikan
asuhan keperawatan pada asma bronkhial secara komperhensif
4. Pasien
dan keluarga
Meningkatkan
pengetahuan pasien dan keluarga tentang penyakit asma bronkhial. Sehingga
pasien dan keluarga mengetahui cara mencegah kambuhnya asma bronkhial.
|
Departemen
Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM Jakarta, 2008. Diagnosis dan Tata Laksana Asma Bronkhial. http://google.com/url?sa=t&rct=j&q=&esrc=s&source=web&cd=1&sqi=2&ved=0CCsQFjAA&url=http%3A%2F%2Findonesia.digitaljournals.org.
Tanggal 10 Desember 2012. Jam 18.40 WIB.
Hidayat, Alimul Aziz. 2006. Pengantar Kebutuhan Dasar Manusia: Aplikasi Konsep dan Proses
Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.

Jurnal Respirologi
Asma, 2011. Editorial Epidemologi Asma.
http://jurnalrespirologi.org/editorial-epidemiology-of-asthma/
Tanggal 21 Agustus 2013. Jam 09.00 WIB
Musliha,
2010. Keperawatan Gawat Darurat : Plus
Contoh ASKEP dengan Pendekatan NANDA, NIC, NOC. Yogyakarta : Nuha Medika.
Muttaqin, Arif. 2008. Asuhan Keperawatan Klien Gangguan Pernapasan. Jakarta: EGC.
Nursalam. 2011. Proses
dan Dokumentasi Keperawatan : Konsep dan Praktik Edisi 2. Jakarta : Salemba
Medika
Prasetyo, Budi. 2010. Seputar Masalah ASMA.Yogyakarta : DIVA Press
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah , Edisi 8. Jakarta : EGC.
Somantri, Irman. 2012. Asuhan Keperawatan pada Klien dengan Gangguan Sistem Pernapasan, Edisi
2. Jakarta : Salemba Medika.
Tanjung,
Dudut. 2003. Asuhan Keperawatan Asma
Bronkhial. http://library.usu.ac.id/download/fk/keperawatan-dudut2.pdf .
Tanggal 3 Desember 2012. Jam 19.30 WIB.
Wijaya,
Andra Saferi dan Putri, Yessi Mariza. 2013.
Keperawatan Medikal Bedah : Keperawatan Dewasa Teori dan Askep. Yogyakarta
: Nuha Medika.
Wilkinson,
Judith M. 2011. Buku saku diagnosis keperawatan
NANDA NIC NOC
|
Lampiran 1
PERMOHONAN
MENJADI RESPONDEN
Kepada
Yth,
Calon
Responden
Di
Ruang Puspa Indah RSUD Nganjuk
Dengan
hormat,
Untuk
memenuhi persyaratan tugas akhir Diploma III Keperawatan, penulis yang bernama
Muchammad Amru Shodiq Mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Satria Bhakti
Nganjuk, bermaksud akan melaksanakan Studi Kasus dengan judul “ASUHAN
KEPERAWATAN Ny. C ( usia 29 tahun )
DENGAN BERSIHAN JALAN NAPAS TIDAK EFEKTIF PADA ASMA BRONKHIAL DI RUANG PUSPA
INDAH RSUD NGANJUK”.
Sehubungan
dengan hal tersebut di atas, penulis mengharapkan kesediaan saudara / saudari
untuk bersedia menjadi responden dalam Studi Kasus yang penulis lakukan sesuai
petunjuk dan apa adanya. Untuk kerahasiaan identitas dan informasi yang saudara
/ saudari berikan, penulis akan jamin semua untuk kepentingan Studi Kasus ini.
Demikian
permohonan penulis, atas perhatian dan kesediaan saudara / saudari saya ucapkan
terima kasih.
Nganjuk,
14 Agustus 2014
Hormat
saya
Penulis
Lampiran
2
INFORMED
CONSENT
Saya
yang bertanda tangan di bawah ini menyatakan bersedia ikut berpartisipasi
sebagai responden dalam Studi Kasus atas nama Muchammad Amru Shodiq Mahasiswa
Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Prodi Diploma III Keperawatan Satria Bhakti
Nganjuk.
Tanda
tangan saya menunjukkan bahwa saya telah diberikan informasi mengenai tujuan
dan manfaat di dalam penulisan ini, sehingga saya bersedia untuk berpartisipasi
dalam Studi Kasus ini.
Nganjuk, Mei 2014
Responden
![]() |
Merkur 23c (2590) - XN-O80B910a26eepc81il5g.online
BalasHapusMerkur 바카라 23c (2590) 메리트 카지노 고객센터 - 샌즈카지노 XN-O80B910a26eepc81il5g.Online. Rating. 5 · 3 reviews